Apa Itu Disertasi

Dalam dunia perkuliahan setiap mahasiswa yang memasuki semester akhir pasti akan diminta untuk melakukan penelitian. Jika pada jenjang S1 penelitian itu dinamakan skripsi dan penelitian S2 dinamakan tesis, maka penelitian yang dilakukan sebagai syarat kelulusan S3 yaitu disertasi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui apa itu disertasi bagi yang ingin melanjutkan pendidikan S3. Apalagi penelitian dalam disertasi memiliki tingkat kesulitan paling tinggi jika dibandingkan dengan skripsi dan tesis.

Apa Itu Disertasi?

Secara garis besar, disertasi dapat diartikan sebagai penelitian atau riset. Namun, penelitian ini berbeda karena dilakukan oleh mahasiswa S3. Pada umumnya pengerjaan disertasi akan memakan waktu lebih lama dan lebih sulit dibandingkan jenis penelitian lainnya. Riset yang dilakukan untuk menempuh gelar doktor ini bisa dilakukan hingga berbulan-bulan.

Karena dilakukan sebagai syarat lulus dari perkuliahan, disertasi juga tetap memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan di S1 dan S2. Yaitu, sistem penulisan, metodologi dan juga sama-sama merupakan karya tulis ilmiah yang nantinya bisa dijadikan sebagai landasan untuk melakukan penelitian lanjutan.

Tujuan dari penelitian S1 dan S2 adalah membuat kompilasi dari sejumlah penelitian dengan topik serupa kemudian memperbaruinya lagi dengan melakukan observasi dan mengolah data. Namun, penelitian yang dilakukan di S3 ini terbilang cukup sulit karena penelitian yang dilakukan harus benar-benar baru dengan tujuan untuk menghasilkan teori atau konsep untuk bidang keilmuan.

Jenis-jenis Disertasi

Setelah memahami apa itu disertasi, maka penting juga untuk mempelajari jenis-jenisnya. Setiap mahasiswa S3 wajib memilih salah satu atau menggabungkan jenis disertasi untuk melakukan penelitian. Untuk lebih jelasnya ketahui jenis disertasi berikut ini:

1. Analisis Isi

Jenis disertasi ini dilakukan dengan meneliti isi dari suatu informasi atau konten berupa teks, gambar, maupun video. Pada umumnya orang-orang yang memilih analisis isi dalam disertasi tidak terlalu ingin melibatkan banyak orang untuk menyelesaikan penelitiannya. Hal ini dikarenakan sifat dari analisis isi itu sendiri yang hanya membutuhkan peneliti sebagai faktor utama untuk menjawab pertanyaan penelitian. Kalaupun diperlukan wawancara untuk menguji hasil yang diperoleh dari analisis isi sifatnya hanya berupa rekomendasi saja.

2. Penelitian Pustaka

Sekilas, penelitian pustaka mirip dengan analisis karena memerlukan buku sebagai media observasi. Hanya saja penelitian pustaka tidak serumit analisis isi karena dapat dilakukan hanya dengan membaca buku, hasil penelitian, atau karya sastra lainnya. Sedangkan untuk melakukan analisis isi peneliti harus merumuskan instrumen penelitian terlebih dahulu.

3. Evaluasi

Peneliti yang memilih evaluasi dalam penelitiannya akan mengobservasi kelemahan dari suatu aturan seperti hukum atau kebijakan. Aturan ini bisa berasal dari pemerintah atau suatu lembaga yang dapat mempengaruhi masyarakat. Evaluasi pada umumnya dipilih oleh mahasiswa S3 dengan konsentrasi ilmu sosial.

4. Kualitatif

Selain evaluasi, kualitatif juga sering digunakan untuk penelitian di bidang sosial. Dalam penelitian ini peneliti dapat melakukan wawancara sebagai cara untuk mengambil data. Maka, kualitatif akan sangat cocok dengan peneliti yang ingin melibatkan orang lain.

5. Kuantitatif

Salah satu ciri khas dari kuantitatif yaitu menggunakan kuesioner sebagai media untuk memperoleh data. Peneliti akan merumuskan pertanyaan terlebih dahulu yang dibuat berdasarkan instrumen penelitian, kemudian membagikannya kepada sekelompok orang yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Demikianlah penjelasan mengenai apa itu disertasi dan jenis-jenisnya. Setidaknya ada 5 jenis disertasi yang bisa dipilih untuk menyelesaikan penelitian di level S3. Setelah berhasil melakukan penelitian dan lulus dari masa studi S3, maka si peneliti akan mendapat gelar doktor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *