Sistematika Penulisan Jurnal

Pernah mendengar istilah tulisan bernama jurnal ilmiah? Ya, tulisan ini sekarang menjadi dokumen utama yang wajib diterbitkan dalam berbagai keperluan akademik. Sebut saja keperluan kenaikan pangkat, publikasi penelitian dan sebagainya. Namun demikian, ternyata masih banyak yang belum paham sistematika penulisan jurnal yang baik, karenanya akan dibahas di sini, sebagai berikut: 

Memahami Definisi Umum Tulisan Jurnal 

Secara umum, jenis tulisan ini dapat dikenali sebagai ragam tulisan ilmiah sebagai publikasi atas penelitian yang telah dilakukan. Biasanya, memiliki sejumlah ciri khusus yang membedakan dengan jenis tulisan yang lain, di antaranya: 

  • Diterbitkan oleh lembaga atau instansi yang memiliki pengakuan publik layaknya lembaga penelitian resmi pemerintah seperti perguruan tinggi negeri atau instansi lainnya; 
  • Pada masa penerbitannya biasanya memiliki rentang waktu tertentu, mulai dari yang singkat, periode caturwulan atau setahunan; 
  • Terkesan singkat, padat, dan memuat informasi penting secara lengkap dan jelas; 
  • Dipergunakan untuk keperluan dalam bidang akademik baik syarat kelulusan atau kenaikan jabatan dan sebagainya; 
  • Serta ciri teknis lain semisal sistematika penulisan jurnal yang wajib diperhatikan setiap orang yang menulisnya. 

Sistematika Penulisan Jurnal yang Lazim Dipakai 

Selanjutnya, yang penting untuk diperhatikan adalah menulis sebuah jurnal, terlebih yang bersifat ilmiah tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Melainkan ada sistematika penulisan jurnal khusus yang harus diikuti agar dapat dipublikasikan secara tepat, laiknya beberapa komponen berikut:  

1. Judul Jurnal 

Sistematika penulisan jurnal pertama yang harus diperhatikan dengan seksama adalah bagian judul. Seorang penulis, hendaknya membuat judul yang menampilkan gambaran jurnal, sehingga harus memenuhi kriteria seperti; 

  • Aturan teknis jumlah kata maksimal untuk judul berbahasa Inggris 10 kata, sedang bahasa Indonesia paling banyak 12 kata; 
  • Harus menggunakan pilihan kata yang akurat agar tidak memicu keambiguan yang membingungkan bagi pembaca; 
  • Mengikuti aturan penulisan kapital yang dicetak bold dan diletakkan pada posisi central atas di lembar utamanya; serta 
  • Dilengkapi dengan data identitas yang berada di bawahnya seperti nama penulis, nama pembimbing, lembaga atau instansi terkait, dan sejumlah identitas lain yang wajib dibubuhkan seperti alamat penulis jurnal, dan alamat email pengenal. 

2. Bagian Abstrak 

Setelah menulis bagian judul, maka pada sistematika penulisan jurnal yang kedua penulis akan dihadapkan untuk menulis abstrak. Biasanya bagian ini memiliki ciri umum yang wajib diperhatikan yang terdiri dari: 

  • Penulisan sebuah abstrak pada jurnal hendaknya dibuat secara padat, singkat, dan memuat gambaran secara utuh; 
  • Meski singkat, tidak sama dengan ringkasan. Karena ringkasan berisi pembahasan poin utuh yang hanya diperingkas saja, sedang abstrak hanya berwujud pemadatan isi saja; 
  • Terdapat penggunaan bahasa yang sifatnya informatif dan persuasif sehingga memungkinkan pembaca tertarik dan meneruskan pembacaan jurnal; 
  • Lebih baik lagi, jika dalam abstrak disertakan temuan baru yang menjadi ciri khas penelitian dan berbeda dari pendahulunya; 
  • Keberadaan kata kunci yang menunjukkan pada pembaca terkait fokus utama jurnal; dan 
  • Poin-poin teknis lain semisal pemilihan font huruf dan sebagainya yang disesuaikan permintaan instansi penerbitan. 

3. Bab Pendahuluan 

Sama seperti pada jenis tulisan ilmiah yang lain, sistematika penulisan jurnal tidak bisa lepas dari bagian pendahuluan. Sebagai komponen penting yang wajib ada, maka ada hal-hal penting yang selalu jadi pusat perhatian pada bab ini, seperti: 

  • Peristiwa atau kejadian yang mengetuk hati dan pikiran penulis untuk menerbitkan jurnalnya, biasanya berisi masalah-masalah relevan; 
  • Selanjutnya, masalah dalam latar belakang tersebut dijelaskan kembali dengan menggunakan landasan teori yang kuat dan menunjang; 
  • Ada kalanya juga memakai referensi singkat dari penelitian relevan yang telah ada sebelumnya; serta 
  • Tambahan hipotesis penulis akan masalah yang menjadi pembahasan dalam jurnal yang diterbitkannya. 

4. Kajian Pustaka Jurnal 

Kajian pustaka ini merupakan bagian penting dari sistematika penulisan jurnal keempat yang tidak boleh terlewatkan. Semestinya di bagian penting ini, penulis memberikan poin-poin penting yang terdiri dari: 

  • Dasar teori jelas yang dipakai sebagai pegangan penulis untuk merunut permasalahan yang terdapat pada jurnal;  dan 
  • Pemikiran singkat penulis tentang alasan memakai teori tersebut sebagai landasan yang kuat. 

5. Metode Penelitian 

Hal yang tidak kalah penting selanjutnya adalah bagian metode penelitian yang dipergunakan pada jurnal ilmiah. Bab ini memuat alat yang dipakai penulis sebagai pisau bedah untuk mengurai masalah penelitian, biasanya memuat elemen penting seperti: 

  • Langkah-langkah dalam melakukan kegiatan penelitian yang disusun secara cermat dan runut; 
  • Deskripsi detail terkait langkah-langkah penelitian yang dipergunakan agar memiliki keunikan dan terhindar dari upaya penjiplakan atas karya orang lain yang telah ada sebelumnya; dan 
  • Bagan atau skema dalam penelitian yang barangkali diperlukan untuk ditampilkan agar semakin meyakinkan bahwa jurnal ini unik dan khas.  

6. Pembahasan Data Beserta Hasilnya 

Terdapat dua buah komponen pokok yang terdapat pada bagian ini yang masing-masing saling melengkapi satu sama lain. Yakni bagian hasil penelitian dan pembahasan data yang secara lebih jelas dapat dipahami sebagai berikut:

  • Hasil menampilkan gambaran sederhana dan cenderung singkat dari sebuah penelitian yang dilakukan, bisa memanfaatkan media seperti foto ataupun diagram; sedangkan
  • Pembahasan data hasil penelitian memuat penjelasan atau penjabaran rinci dari penelitian berisi poin penting semisal perbedaan dengan jurnal sebelum, atau hal lainnya. 

7. Simpulan 

Ketujuh, hal penting lain yang wajib ada dalam sistematika penulisan jurnal adalah poin simpulan. Ini sama persis perannya seperti jenis tulisan ilmiah lain yang punya peran dalam menekankan ulang sejumlah poin jurnal, laiknya: 

  • Pembuktian dari hipotesis yang dimiliki oleh masing-masing penulis jurnal; 
  • Temuan-temuan baru yang mungkin memiliki sifat khas yang berbeda dari jenis penelitian lain yang ada sebelumnya. 
  • Penekanan kembali atas hasil penelitian secara singkat, padat, dan jelas; serta
  • Pemberian benang merah antara pengujian hipotesis awal dan hasil pembahasan yang telah dilakukan pada penelitian. 

8. Daftar Rujukan 

Terakhir, yang paling penting untuk diperhatikan oleh setiap penulis adalah membubuhkan daftar rujukan atau daftar pustaka. Pentingnya, agar penulis terhindar dari tuduhan buruk berupa pelanggaran hak cipta atau plagiarisme, yang biasanya terdiri dari: 

  • Buku-buku referensi yang dijadikan sebagai acuan dalam landasan teori maupun metode yang dipergunakan untuk mengurai permasalahan; 
  • Referensi penelitian sebelumnya yang relevan baik dari publikasi jurnal ilmiah maupun dari sumber lain lainnya skripsi, tesis, maupun disertasi;
  • Keterangan video, gambar, bagan atau media lain yang namanya dicatut dalam  salah satu pembahasan yang ada pada jurnal; dan 
  • Sumber-sumber lain yang dijadikan referensi yang rawan dituduh tindakan plagiasi apabila tidak dicantumkan. 

Setidaknya, itulah sejumlah pembahasan penting dan menarik yang dapat disajikan terkait sistematika penulisan jurnal yang wajib dipahami. Bagaimana sekarang? Sudah siap untuk menulis jurnal ilmiah penelitian untuk berbagai keperluan seperti kenaikan jabatan atau kelulusan? Sebaiknya, ingat-ingat sistematika di atas dengan baik agar tidak perlu melakukan revisi teknis saat hendak publikasi! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *